Kematian seorang warga di Desa Tasik Tebing Serai, Kabupaten Bengkalis, akibat dugaan serangan Harimau Sumatera kembali menyoroti konflik satwa liar di Riau. Insiden ini terjadi di kawasan yang secara ekologis masih menjadi habitat alami harimau, namun telah tertekan oleh aktivitas manusia.
BBKSDA Riau menyatakan bahwa sebagian besar konflik manusia–harimau terjadi di wilayah yang berbatasan langsung dengan perkebunan dan permukiman. Ekspansi perkebunan dinilai menjadi salah satu faktor utama penyempitan habitat satwa liar di provinsi tersebut.
Data konflik yang mencapai lebih dari seratus kasus dalam lima tahun terakhir menunjukkan bahwa masalah ini bersifat struktural, bukan insidental. Konflik muncul sebagai konsekuensi dari perubahan fungsi hutan yang tidak mempertimbangkan keberlanjutan ekosistem.
Pegiat lingkungan mengingatkan bahwa narasi pemberitaan yang hanya menonjolkan serangan satwa berpotensi menyesatkan publik. Harimau kerap diposisikan sebagai ancaman, tanpa mengulas peran manusia dalam menciptakan kondisi yang memicu konflik.
Sebagai predator puncak, Harimau Sumatera memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem hutan. Kehilangan satwa ini dapat berdampak luas, tidak hanya pada keanekaragaman hayati, tetapi juga pada stabilitas lingkungan dan kehidupan manusia.


No responses yet