Latest Comments

No comments to show.

Fragmentasi habitat hutan di Riau semakin menempatkan Harimau Sumatera di posisi rentan. Insiden konflik yang menewaskan seorang warga Bengkalis pada April 2022 kembali membuka diskusi tentang relasi manusia dan satwa liar di tengah tekanan pembangunan.

BBKSDA Riau mencatat lebih dari seratus konflik manusia–harimau dalam kurun waktu lima tahun terakhir. Sebagian besar konflik terjadi di kawasan yang mengalami perubahan fungsi lahan secara masif.

Para pegiat konservasi menilai konflik ini sebagai konsekuensi dari ketimpangan relasi manusia dengan alam. Hutan yang terus dikorbankan atas nama pembangunan menyisakan ruang hidup yang semakin sempit bagi satwa liar.

Harimau Sumatera sebagai predator puncak berperan menjaga keseimbangan ekosistem hutan. Hilangnya harimau dapat memicu ketidakseimbangan rantai makanan dan degradasi ekosistem yang lebih luas.

Oleh karena itu, penyelesaian konflik dinilai tidak cukup dengan pendekatan teknis semata. Perlindungan habitat, penegakan hukum lingkungan, dan penataan ruang berbasis ekologi menjadi kunci untuk mencegah konflik berulang di masa depan.

TAGS

CATEGORIES

Blog

No responses yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *