Konflik manusia dan Harimau Sumatera di Riau terus berulang seiring semakin tergerusnya hutan alam. Insiden di kawasan Giam Siak Kecil, Bengkalis, pada April 2022 menjadi salah satu contoh nyata tekanan yang dihadapi satwa dilindungi tersebut.
Sepanjang 2018–2022, BBKSDA Riau mencatat lebih dari seratus kasus konflik manusia–harimau. Angka ini menunjukkan bahwa konflik bukan peristiwa tunggal, melainkan pola yang terus berulang dalam lanskap yang sama.
Akademisi konservasi menilai akar konflik terletak pada fragmentasi habitat akibat alih fungsi hutan. Ketika hutan terpecah, harimau kehilangan ruang jelajah, mangsa, dan koridor pergerakan yang aman.
Upaya penanganan konflik selama ini cenderung bersifat reaktif, seperti pemasangan kamera jebak dan penangkapan satwa. Padahal, tanpa perlindungan habitat dan penataan ulang ruang hidup manusia, konflik berpotensi terus meningkat.
Pegiat lingkungan menekankan pentingnya pendekatan berbasis lanskap yang mengintegrasikan konservasi satwa, perlindungan hutan, dan keselamatan masyarakat.


No responses yet